Laporan Praktikum Biokimia Darah

  • Whatsapp
uji darah
laporan praktikum biokimia darah

Download Laporan Praktikum Biokimia Darah dan landasan teori mengenai darah lengkap dengan pembahasan dalam format PDF. Laporan Praktikum ini merupakan kelanjutan dari Laporan Praktikum biokimia yang pernah admin bahas minggu lalu, laporan ini admin susun dari berbagai sumber agar informasi yang di berikan lebih banyak.

BAB I PENDAHULUAN

Tujuan :

Adapun tujuan dalam praktikum biokima darah adalah sebagai berikut :

  1. Mengetahui adanya globulin dalam serum darah dan karakteristiknya
  2. Mengetahui adanya albumin dalam serum darah dan karakteristiknya
  3. Mengetahui cara menghiangkan protein dalam serum darah
  4. Mengetahui adanya kalsium dalam darah
  5. Mengetahui adanya klorida dalam darah
  6. Mengetahui adanya glukosa dalam darah
  7. Mengetahui adanya fosfat dalam darah

Latar Belakang

Pada tubuh manusia terdapat sistem peredaran darah yang diketahui berperan untuk mengalirkan oksigen dan nutrisi ke seluruh bagian tubuh. Namun tidak hanya kedua fungsi tersebut yang dapat dilakukan oleh darah, masih banyak fungsi darah yang lain bagi tubuh manusia. Maka tidak salah jika darah disebut sebagai komponen penting yang dibutuhkan tubuh.

Darah merupakan cairan yang berwarna merah yang dapat membuat tubuh bekerja sebagaimana mestinya. Dalam tubuh, cairan ini berperan sebagai alat transportasi yang bertugas untuk mengangkut nutrisi, oksigen, hormon, dan berbagai senyawa penting lainnya ke bagian-bagian tubuh yang membutuhkan. Di saat yang bersamaan, cairan ini juga bertugas untuk membawa zat sisa yang sudah tidak berguna lagi ke sistem ekresi atau pembuangan, termasuk ke dalam ginjal, paru-paru, dan hati. Selain itu darah juga mampu untuk membantu melawan bakteri ataupun kuman penyakit yang menyerang sistem imun tubuh. Darah terdiri dari beberapa komponen dengan fungsinya masing-masing.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Definisi Darah

Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri (Desmawati, 2013). Sejalan dengan pengertian tersebut Kusumawardani (2010), menyatakan bahwa darah merupakan kumpulan dari cairan, sel-sel dan partikel yang menyerupai sel, yang mengalir dalam arteri, kapiler dan vena yang mengirimkan oksigen dan zat-zat gizi ke jaringan dan membawa karbon dioksida dan hasil limbah lainnya.

Menurut Pearce (2008), darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua komponen bagian darah yaitu sekitar 55% plasma darah dan 45% terdiri atas sel darah. Volume darah secara keseluruhan yaitu satu per dua belas berat badan atau sekitar 5 liter. Plasma atau serum darah terdiri atas 91% air, 8,0% protein (albumin, globulin, protrombin, dan fibrinogen), 0,9% mineral (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam dari kalsium fosfor, magnesium, besi dan lainlain) sisanya diisi oleh sejumlah bahan organik seperti glukosa, lemak, urea, asam urat, keratin dan asam amino sedangkan sel darah terdiri dari tiga jenis yaitu eritrosit atau sel darah merah, leukosit atau sel darah putih dan trombosit. Sel darah merah mempunyai bentuk bikonkaf dan pembungkus luar atau stroma yang berisi masa hemoglobin. Sel darah merah memerlukan protein karena strukturnya terbentuk dari asam amino dan besi. Wanita memerlukan lebih banyak zat besi karena beberapa diantaranya dibuang sewaktu menstruasi.

Setiap orang rata-rata mempunyai kira-kira 70 ml darah setiap kilogram berat badan, atau kira-kira 3,5 untuk orang denga berat badan 50kg. Sebanyak 50-60% darah terdiri atas cairan, sisanya berupa sel-sel darah. Serum pada dasarnya sama dengan plasma, tetapi tidak mengandung fibrinogen (yang merupakan faktor koagulasi/ pembekuan darah). Sel-sel darah terdiri darah eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih) yang terdiri dari beberapa jenis, dan trombosit (platelet) (Rukman, 2014).

B. Komponen Darah

Terdapat dua komponen utama darah, yakni plasma dan butir-butir darah, yakni sebagai berikut:

a. Plasma darah

Plasma darah terdiri atas 90% air, 8% protein terlarut, 1% asam organik, dan 1% garam (Guyton, 2002). Plasma darah mengandung berbagai macam zat yag dikategorikan dalam beberapa golongan, yaitu :

  • golongan karbohidrat contohnya glukosa
  • golongan protein contohya albumin, globulin, fibrinogen
  • golongan lemak/lipid contohnya cholesterol
  • golongan enzim conthnya amilase, trasaminase
  • golongan hormon contohnya insulin, adrenalin
  • golongan mineral contohnya zat besi (Fe), kalium (K)
  • golongan vitamin contohnya vitamin A, vitamin K
  • gologan ampas metabolik contohnya urea, asam urat, kreatinin
  • golongan zat warna contohnya bilirubn dan lain-lainnya.

Bahan oraganik pada plasma merupakan protein yang disebut plasma protein yang berkisar 6-8%. Terdapat beberapa jenis protein yang berbeda sifat dan fungsinya. Tubuh individu terdapat kira-kira 200-300 gr protein terdapat dalam bentuk koloid dan mempengaruhi kekentalan (viskositas) darah (DepKes RI, 2005).

Plasma diperoleh dengan memutar sel darah, plasma diberikan secara intravena untuk: mengembalikan volume darah, menyediakan substansi yang hilang dari darah klien. Misalnya faktor pembekuan darah VIII, dan XI untuk klien yang tidak mendapatkanya (Wiwik & Andi, 2008).

b. Butir-butir darah (blood corpuscles)

Butir-butir darah (bagian padat)/ sel-sel darah kira-kira 45%, terdiri atas eritrosit atau sel darah merah (SDM) atau red blood cell (RBC), leukosit atau sel darah putih (SDP) atau white blood cell (WBC), dan trombosit atau platelet.

a) Eritrosit

Sel darah merah berbentuk cakram bikonkaf dengan diameter sekitar 7,6 mikron, tebal bagian tepi 2 mikron dan bagian tengahnya 1 mikron atau kurang, tersusun atas membran yang sangat tipis sehingga sangat mudah terjadi difusi oksigen, karbondioksida dan sitoplasma, tetapi tidak mempunyai inti sel. Produksi eritrosit (eritropoisis) dimulai dari munculnya eritroblas dari sel sistem primitif dalam sumsum tulang. Eritroblas adalah sel berinti dalam proses pematangan disumsum tulang menimbun hemoglobin dan secara bertahap kehilangan intinya yang disebut retikulosit, kemudian selanjutnya mengalami penyusutan ukuran dan menghilangnya material berwarna gelap (Desmawati, 2013).

Sel darah merah yang matang mengandung 200-300 juta hemoglobin (terdiri dari hem yang merupakan gabungan protoprofirin dengan besi dan globin yang merupakan bagian dari protein yang tersusun oleh dua rantai beta) dan enzim-enzim seperti G6PD (glukose-6-phospate-dehydrogenase). Hemoglobin mengandung kira-kira 95% besi dan berfungsi membawa oksigen dengan cara mengikat oksigen (oksihemoglobin) dan diedarkan ke seluruh tubuh untuk kebutuhan metabolisme. Darah keseluruhan normalnya mengandung 15 g hemoglobin per 100 ml darah, atau 30 µm hemoglobin per seribu eritrosit.

Hemoglobin adalah protein dan pigmen merah yang terdapat dalam sel darah merah. Normalnya dalam darah pada laki-laki 15.5 g/dl dan pada wanita 14.0 g/dl. Ratarata konsentrasi hemoglobin (MCHC = Mean Cell Concentration of Hemoglobin) pada sel darah merah adalah 32 g/dl. Sintesis hemoglobin terjadi selama proses eritropoisis, pemtangan sel darah merah akan mempengaruhi fungsi hemoglobin. Apabila tidak ada hemoglobin, kapasitas pembawa oksigen darah dapat berkurang sampai 99% dan tentunya tidak mencukupi kebutuhan metabolisme tubuh dalam darah vena, hemoglobin bergabung dengan ion hidrogen yang dihasilkan oleh metabolisme sel sehingga dapat menyangga kelebihan asam (Desmawati, 2013).

Eritrosit berjumlah paling banyak dibandingkan sel-sel darah lainnya yaitu kira-kira 5 juta eritrosit dalam satu mm3 darah, itu sebabnya darah berwarna merah. Pembuatan eritrosit (hematopoiesis) terjadi di sumsum tulang, terutama dari tulang pendek pipih dan tidak beraturan, jaringan kanselus pada ujung tulang pipa, sumsum dalam batang iga-iga dan dari sternum. Rata-rata masa hidup eritrosit adalah 120 hari setelah itu sel eritrosit akan menjadi rusak dan dihancurkan dalam sistem retikulum endothelium terutama dalam limfa dan hati (D’Hiru, 2013).

b) Leukosit

Leukosit merupakan sel darah putih yang diproduksi oleh jaringan hemopoetik untuk jenis bergranula (polimorfonuklear) dan jaringan limpatik untuk jenis tak bergranula (mononuklear), berfungsi dalam sistem pertahanan tubuh terhadap infeksi (Sutedjo, 2006).

Sel darah putih (leukosit) jauh lebih besar daripada sel darah merah. Pada orang dewasa setiap 1 mm3 darah terdapat 6.000-9.000 sel darah putih, tidak seperti sel darah merah, sel darah putih memiliki inti (nukleus). Sebagian besar sel darah putih bisa bergerak seperti amoeba dan dapat menembus dinding kepiler. Sel darah putih diproduksi di dalam sumsum merah, kelenjar limfa, dan limpa (kura). Sel darah putih memiliki ciri-ciri antara lain tidak berwarna (bening), bentuk tidak tetap (ameboid), berinti dan ukurannya lebih besar dari pada sel darah merah (eritrosit) (Desmawati, 2013).

Leukosit berfungsi untuk melindungi tubuh dari infeksi. Karena itu, jumlah leukosit tersebut berubah-ubah dari waktu ke waktu, sesuai dengan jumlah benda asing yang dihadapi dalam batas-batas yang masih dapat ditoleransi tubuh tanpa menimbulkan gangguan fungsi (Sadikin, 2002). Meskipun leukosit merupakan sel darah, tapi fungsi leukosit lebih banyak dilakukan di dalam jaringan. Leukosit hanya bersifat sementara mengikuti aliran darah ke seluruh tubuh. Apabila terjadi peradangan pada jaringan tubuh leukosit akan pindah menuju jaringan yang mengalami radang dengan cara menembus dinding kapiler (Kiswari,2014).

Leukosit terdiri dari 2 kategori yaitu granulosit dan agranulosit.

  • Granulosit yaitu sel darah putih yang di dalam sitoplasmanya terdapat granulagranula. Granula-granula ini mempunyai perbedaan kemampuan mengikat warna misalnya pada eosinofil mempunyai granula berwarna merah terang, basofil berwarna biru dan neutrofil berwarna ungu pucat.
  • Agranulosit merupakan bagian dari sel darah putih dimana mempunyai inti sel satu lobus dan sitoplasmanya tidak bergranula. Leukosit yang termasuk agranulosit adalah limfosit, dan monosit. Limfosit terdiri dari limfosit B yang membentuk imunitas humoral dan limfosit T yang membentuk imunitas selular. Limfosit B memproduksi antibodi jika terdapat antigen, sedangkan limfosit T langsung berhubungan dengan benda asing untuk difagosit (Tarwoto, 2007).

c. Trombosit

Trombosit merupakan keping darah yang tidak memiliki inti, berbentuk bulat atau lonjong dengan diameter rata – rata 1 – 4 µm. Pemeriksaan hitung jumlah trombosit dengan menggunakan cara automatik atau manual (Bakta, 2006). Umur trombosit didalam tubuh sangat pendek sekitar 8 sampai 10 hari dibandingkan dengan umur eritrosit sekitar 120 hari serta sangat mudah terjadi destruksi, apabila trombosit rusak maka akan segera dihancurkan didalam limpa. Trombosit mudah pecah jika keluar dari pembuluh darah atau bersentuhan dengan benda yang permukaannya kasar, apabila terjadi luka darah akan keluar dari pembuluh darah dan menyebabkan trombosit pecah. Trombosit yang peah dapat menghasilkan enzim trombokinase atau tromboplastin. Trombokinase berfungsi untuk mengubah protrombin dalam plasma darah menjadi trombin dengan bantuan ion Ca2+ dan vitamin K. Trombin akan mengubah fibrinogen dalam plasma menjadi benang-benang fibrin, yaitu benang-benang halus dapat menghentikan perdarahan dan menutup luka (Wasis & Irianto, 2008).

Fungsi trombosit pada tubuh trombosit berperan penting dalam pembentukan darah, mengontrol perdarahan, apabila terjadi cidera vaskuler trombosit mengumpul pada tempat cidera tersebut. Fungsi utama trombosit adalah pembentuk sumbatan mekanis selama respon haemostatis normal terhadap luka vascular. Darah yang sudah tersimpan lebih dari 24 jam tidak lagi mengandung trombosit yang masih berfungsi atau faktor koagulan V , VIII dalam jumlah dan tanpa trombosit dapat terjadi kebocoran darah spontan melalui pembuluh darah kecil (Handayani & Haribowo, 2008).

C. Fungsi Darah

Fungsi utama darah yaitu sebagai media transportasi, pengatur suhu, pemeliharaan keseimbangan cairan, sel darah putih bertanggung jawab terhadap pertahanan tubuh dan diangkut oleh darah ke berbagai jaringan tempat sel-sel tersebut melakukan fungsi fisiologiknya, trombosit berperan mencegah tubuh kehilangan darah akibat perdarahan, protein plasma merupakan pengangkut utama zat gizi dan produk sampingan metabolik ke organ-organ tujuan untuk penyimpanan atau ekskresi, serta keseimbangan basa eritrosit selama hidupnya tetap berada dalam tubuh. Sel darah merah mampu mengangkut secara efektif tanpa meninggalkan fungsinya didalam jaringan, sedangkan keberadaannya dalam darah hanya melintas saja, eosinofil memiliki kemampuan untuk melakukan fagositosis, yaitu memusnahkan setiap sel asing yang memasuki tubuh (Yahya, 2008).

BAB III METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum biokimia darah ini kami lakukan pada :

Hari :

Tempat :

B. Alat dan Bahan

Berikut ini merupakan alat dan bahan yang kami gunakan dalam praktikum biokima darah ini, sebagai berikut:

Alat

  • tabung reaksi
  • pipet tetes
  • corong
  • gelas ukur
  • gelas kimia
  • Penangas air
  • sudip

Bahan

  • serum
  • (NH4)2SO4
  • kertas saring
  • aquades
  • asam asetat
  • klorofenol merah
  • kalium oksalat
  • HNO3 pekat
  • AgNO3
  • gliserol
  • Na2CO3
  • CuSO4
  • amonium molibdat

C. Prosedur Kerja atau Cara Kerja

Berikut ini berbagai langkah dalam praktikum biokimia darah :

a. Uji pengendapan globulin

  1. Masukkan 3 ml serum ke dalam tabung reaksi
  2. Tambahkan 3 ml (NH4)2SO4 jenuh ke dalam tabung reaksi
  3. Goyangkan tabung reaksi hingga terbentuk endapan
  4. Saring endapan yang terbentuk, endapan di tuangkan sedikit aquades lalu di gojlok. Catat perubahan yang terjadi.

b. Uji pengendapan albumin

  1. Filtrat dari percobaan awal ditambahkan (NH4)2SO4
  2. Goyangkan tabung reaksi hingga terbentuk endapan
  3. Saring endapan yang terbentuk, endapan di tuangkan sedikit aquades lalu digojlok. Catat perubahan yang terjadi.

c. Deproteinasi serum darah

  1. Masukkan 5ml serum darah ke dalam tabung reaksi
  2. Tambahkan 10ml aquades ke dalam tabung reaksi
  3. Didihkan larutan dengan penangas air
  4. Tambahkan asam asetat 3-5 tetes hingga terbentuk endapan protein
  5. Disaring endapan, tambahkan klorofenol merah pada filtrat hingga warna merah muda hilang (pH=5,4). Bila warna belum juga hilang tambahkan kembali asam asetat
  6. Panaskan kembali, kemudian saring, simpan filtrat bagi dalam 4 bagian (untuk uji kalsium, klorida, glukosa, dan fosfat).

d. Uji kalsium

  1. Masukkan filtrat ke dalam tabung reaksi
  2. Tambahkan kalium oksalat ke dalam tabung reaksi
  3. Panaskan campuran, amati endapan yang terbentuk

e. Uji klorida

  1. Masukkan filtrat ke dalam tabung reaksi
  2. Tambahkan setetes HNO3 pekat, dan beberapa tetes larutan AgNO3
  3. Amati endapan yang terbentuk

f. Uji glukosa

  1. Masukkan filtrat ke dalam tabung reaksi
  2. Tambahkan 2 tetes gliserol, seujung sudip Na2CO3 bebas air dan 2 tetes larutan CuSO4 2,5%
  3. Didihkan dengan penangas air, amati perubahan yang terjadi

g. Uji fosfat

  1. Masukkan filtrat ke dalam tabung reaksi
  2. Tambahkan 1 tetes HNO3 pekat dan 3 tetes amonium molibdat
  3. Panaskan dengan penangas air, amati perubahan yang terjadi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Percobaan

a. Uji pengendapan globulin

b. Uji pengendapan albumin

c. Deproteinasi serum darah

d. Uji kalsium

e. Uji klorida

f. Uji glukosa

g. Uji fosfat

B. Pembahasan

Adapun pembahasan dalam laporan praktikum biokimia darah ini adalah sebagai berikut :

Pada praktikum biokimia kali ini kami melakukan percobaan mengenai darah. Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup yang berfungsi sebagai pembawa oksigen dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida dari jaringan ke paru-paru, membawa zat nutrien dari saluran cerna ke jaringan, kemudian menghantarkan sisa metabolisme melalui organ sekresi seperti ginjal, menghantarkan hormon dan materi pembekuan darah. Daraha terdiri atas unsur-unsur padat yaitu eritrosit, leukosit, dan trombosit yang tersuspensi di dalam media cair yang disebut plasma. Pada praktikum ini ter dapat 7 uji yang kami lakukan yakni, uji pengendapat globulin, uji pengendapan albumin, deproteinasi serum darah, uji kalsium, uji klorida, uji glukosa, dan uji fosfat.

a. Uji pengendapan globulin

Protein yang terdapat pada plasma darah terdiri dari globulin, albumin dan fibrinogen. Globulin merupakan pengangkut yang membawa nutrisi makan dan berperan dalam sistem kekebalan tubuh manusia. Pada percobaan pertama pada pencampuran 3 ml serum dengan 3 ml (NH4)2SO4 kemudian dilakukan pengocokan/ digoyang, warna campuran yang didapat menjadi kuning keruh kemudian terdapat endapan yang terbentuk. Hal ini dapat terjadi akibat penambahan dari amonium sulfat. Pada saat penamahan amonium sulfat maka terjadi pengikatan air pada protein karena garam ini bersifat hidroskopis. Amonium sulfat jenuh yang ditambahkan dengan serum menyebabkan larutan campuran tersebut tidak jenuh lagi melainkan menjadi setengah jenuh. Globulin dapat diendapkan pada larutan setengah jenuh maka terbentuk endapan globulin. Menurut Sloane (2004) berpendapat bahwa larutan globulin dapat diendapkan oleh penambahan garam amonium sulfat hingga setengah jenuh. Pada percobaan ini, protein albumin tidak ikut mengendap karena protein albumin mengendap pada larutan yang bersifat jenuh sehingga filtrat yang disaring endapannya masih mengandung protein albumin dan dapat digunakan pada percobaan pengendapan albumin. Endapan globulin yang telah disaring tadi ditambahkan aquades maka endapan protein globulin tersebut tidak larut (ditandai dengan larutan masih keruh) karena protein globulin sedikit atau tidak larut dalam air sehingga dalam larutan tersebut masih mengandung protein globulin.

b. Uji pengendapan albumin

Pada percobaan kedua kami menggunakan filtrat dari percobaan uji pengendapan globulin. Percobaan ini dilakukan dengan menambahkan amonium sulfat ke dalam tabung reaksi yang berisi filtrat. Kemudia tabung digoyangkan dan terbentuk endapan. Penambahan garam (NH4)2SO4 (amonium sulfat) yang berlebih ini bertujuan untuk mengikat air pada protein karena garam bersifat hidroskopis sehingga protein albumin tersebut dapat mengendap karena protein albumin dapat mengendap pada amonium sulfat jenuh.

Albumin adalah protein yang dapat larut serta dapat terkoagulasi oleh panas dan dapat diendapkan dengan penambahan amonium sulfat hingga jenuh. Endapan tersebut disaring dan ditambahkan aquades lalu digojok tetapi dalam larutan tersebut masih terdapat sedikit endapan yang berwarna merah yang bukan merupakan endapan dari protein albumin. Endapan dari protein albumin sendiri sudah ikut larut dalam air (ditandai dengan larutan berwarna bening) karena protein albumin dapat larut dalam air (Sloane, 2004).

c. Deproteinasi serum darah

Percobaan ini bertujuan untuk menghilangkan protein dalam serum darah karena protein dalam darah merupakan protein terkonjugasi, hal ini agar tidak mengganggu uji lain yang akan dilakukan. Mula-mula serum ditambahkan dengan aquades kemudian didihkan Pada perlakuan ini menyebabkan menyebabkan protein kehilangan fungsinya dikarenakan ikatan hidrogen dalam protein tersebut lepas. Setelah itu ke dalam tabung reaksi kami menambahkan 5 tetes asam asetat terbentuk endapan dalam larutan tersebut dan warna larutan menjadi merah kejinggaan. Fungsi dan penambahan asam asetat dan pemanasan adalah untuk proses penggumpalan protein. Protein merupakan senyawa yang akan mengalami denaturasi dalam keadaan asam dan mengumpal apabila dipanaskan. Penggumpalan terjad ketika protein telah mencapai titik isolistriknya. Titik isolistrik dalam darah adalah 4,88.

Endapan kemudian kami saring makan terdapat dua fase yakni padat pada endapan dan cair pada filtrat. Selanjutnya filtrat ditetesi indikator klorofenol merah lalu diasamkan hingga pH 5,4 dengan cara ditambahkan asam asetat kembali, penambahan asam ini mengakibatkan penambahan H+ sehingga antara muatan positif (+) dan negatif (-) pada protein tidak seimbang sehingga terjadi perubahan struktur yang menyebabkan terjadinya endapan protein. Fungsi penambahan indikator klorofenol merah adalah untuk mendapatkan pH diluar titik isolistrik protein. Warna filtrat berubah menjadi kuning. Filtrat dipanaskan dan kemudian disaring, filtrat yang dihasilkan dibagi menjadi 4 bagian untuk digunakan pada percobaan selanjutnya. Menurut Bastiansya (2008), konformasi molekul protein dapat berubah karena pengaruh suhu, pH atau karena terjadinya suatu reaksi dengan senyawa lain atau ion-ion logam dan peristiwa ini sering disebut deproteinasi.

d. Uji kalsium

Pada percobaan ini filtrat ditambahkan kalium oksalat, kemudian dilakukan pemanasan. Hasil yang diperoleh dari perlakuan ini adalah, filtrat yang semula berwarna kuning menjadi kuning keruh, dan terbentuk sedikit endapan. Keruhnya filtrat tersebut karena filtrat bereaksi dengan kalium oksalat menghasilkan kalsium oksalat. Reaksi yang terjadi adalah :

K2C2O4 + Ca+2 –> CaC2O4 + K+

Reaksi tersebut terjadi karena ion Ca memiliki muatan positif (+2) lebih tinggi dibandingkan ion K (+1). Menurut Bastiansyah (2008), sedikit banyaknya kalsium  dalam darah dapat dilihat dari tingkat kekeruhan larutan setelah ditetesi kalium oksalat. Tingkat kekeruhan tinggi maka menunjukkan kalsium dalam darah banyak, demikian juga sebaliknya. Endapan yang terbentuk tersebut merupakan endapan kalsium oksalat yang merupakan hasil reaksi dari kalium oksalat dengan kalsium yang terdapat dalam darah. Menurut Mustafa et al. (2011), kondisi kadar kalsium darah yang optimum akan menunjang deposisi kalsium ke dalam tulang, sebaliknya, turunnya kadar ion kalsium plasma di bawah batas normal akan memacu kelenjar paratiroid untuk meningkatkan sekresi hormon paratiroid. Hormon paratiroid memulihkan konsentrasi kalsium cairan ekstrasel menjadi normal dengan bekerja langsung pada tulang dan ginjal, dan bekerja tidak langsung pada mukosa usus melalui perangsangan sistem kalsitriol.

e. Uji klorida

Pada percobaan ini, filtrat diberi HNO3 pekat dan AgNO3. Hasilnya larutan menjadi keruh dan terdapat endapan putih yaitu endapan AgCl. HNO3 pekat mengubah Cl organik menjadi Cl anorganik. Cl organik dapat diikat oleh AgNO3 membentuk AgCl. Selain itu penambahan HNO3 mencegah terjadinya endapan perak fosfat pada larutan. Reaksi yag terjadi adalah :

Cl- + AgNO3 –> AgCl + NO3-

Menurut Gandasoebrata (2007), plasma darah tersusun atas salah satunya adalah elektrolit. Klorida merupakan elektrolit bermuatan negatif, banyak terdapat pada cairan ekstraseluler (diluar sel), berperan penting dalam keseimbangan cairan tubuh, keseimbangan asam-basa dalamtubuh. Klorida di angkut di dalam darah dan limfe akibat kerja jantung dan otot rangka.

f. Uji glukosa

Percobaan keenam kali ini masih menggunakan filtrat yang sama. Filtrat ditambahkan gliserol, serbuk Na2CO3 bebas air dan larutan CuSO4 2,5% larutan berubah menjadi berwarna merah muda keunguan. Penambahan  larutan CuSO4 2,5%  yang nantinya akan direduksi oleh gluksa menjadi Cu2O yang berwarna merah bata. Fungsi dari penambahan gliserol selain sebagai pemecah lemak juga untuk menaikkan titik didih karena gliserol merupakan senyawa non polar sehingga memiliki titik didih tinggi. Na2CO3 anhidrat yang digunakan memberi suasana basa sehingga glukosa menjadi enol reaktif akan mereduksi Cu2+. Reaksi yang terjadi :

2Cu2+ + OH- –> Cu2O + 2H2

Larutan tersebut dididihkan selama beberapa menit hingga warna dari larutan tersebut berubah menjadi coklat kemerahan dan ada endapan putih di dasar. Hal ini membuktikan bahwa dalam filtrat tersebut mengandung glukosa. Menurut Witasari (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi kenaikan glukosa darah adalah kandungan serat dalam makanan, proses pencernaan, cara pemasakannya, ada atau tidaknya zat anti terhadap penyerapan makanan sebagai zat anti nutrien, perbedaan interprandial, waktu makan dengan lambat atau cepat, pengaruhnya intoleransi glukosa dan pekat tidaknya makanan.

g. Uji fosfat

Pada percobaan terakhir bertujuan untuk mengetahui adanya senyawa fosfat dalam darah. Mula-mula filtrat ditambah setetes HNO3 pekat dan 3 tetes amonium molibdat kemudian dipanaskan. Terbentuk endapan berwarna kuning. Adanya endapan warna kuning ini menunjukkan bahwa dalam filtrat tersebut terdapat senyawa fosfat dan endapan tersebut merupakan endapan ammonium fosfomolibdat, yang terjadi dari reaksi amonium molibdat dengan fosfat dalam filtrat. Penambahan HNO3 berfungsi untuk mencegah terjadinya endapan peroksida dan untuk melepaskan ikatan fosfat dalam darah.

BAB V PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan dari percobaan yang telah dilakukan, maka dalam praktikum biokimia darah dapat disimpulkan bahwa :

  1. Protein yang terdapat pada plasma darah terdiri dari globulin, albumin dan fibrinogen. Globulin dapat diendapkan dengan penambahan garam amoniu sulfat. Globulin bersifat tidak larut dalam air.
  2. Penambahan amonium sulfat dapat mengendapkan albumin. Albumin larut dalam pelarut air.
  3. Deproteinasi serum darah dapat dilakukan dengan pemanasan serta penambahan asam asetat, kemudian dengan menggunakan indikator klorofenol merah. Filtrat yang didapat akan berwarna kuning bening.
  4. Dalam darah manusia terdapat kalsium yang ditunjukkan dengan adanya endapan kalsium oksalat pada penambahakn kalium oksalat.
  5. Klorida dalam darah dapat di tunjukkan dengan penambahan HNO3 dan AgNO3 kemudian menghasilkan endapan AgCl yang berwarna putih.
  6. Dalam darah terdapat glukosa dengan kadar yang berbeda pada setiap individu.
  7. Pada uji fosfat terbentuk endapan berwarna kuning hasil reaksi dari amonium molibdat dengan fosfat dalam filtrat yang membentuk amonium fosfomolibdat.

Download Laporan Praktikum [PDF]

Anda dapat mendownload Laporan Praktikum Praktikum Biokimia Darah ini dalam format PDF dengan mengklik tombol download yang sudah kami sediakan di bawah.

Download Laporan Praktikum
Klik Tombol Diatas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *