Laporan Praktikum Biokimia Uji Lipid

  • Whatsapp
praktikum uji lipid
Minyak zaitun pada praktikum uji lipid

Download Laporan Praktikum Pengujian Lipid dan landasan teori mengenai uji lipid lengkap dengan pembahasan dalam format PDF. Laporan Praktikum ini merupakan kelanjutan dari Laporan Praktikum biologi yang pernah admin bahas minggu lalu, laporan ini admin susun dari berbagai sumber agar informasi yang di berikan lebih banyak.

BAB I PENDAHULUAN

Tujuan :

Adapun tujuan dalam Praktikum Pengujian Lipid adalah sebagai berikut :

  1. Mengetahui kelarutan lipida pada beberapa pelarut
  2. Mengetahui derajat ketidak-jenuhan asam lemak
  3. Mengetahui proses saponifikasi lemak dengan kalium hidroksida

Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai lemak dalam makanan yang kita makan, baik dalam bentuk padatan maupun dalam bentuk cair. Namun lemak kerap dianggap sebagai sesuatu yang jahat dan sering dihindari karena diyakini dapat membuat gemuk. Padahal ketika mengkonsumsi lemak tidak secara otomatis langsung membuat gemuk. Faktor yang membuat gemuk adalah ketika terlalu banyak mengkonsumsi makronutrien.

Terdapat dua jenis lemak, yakni lemak baik dan lemak jahat. Untuk membedakan lemak tersebut dapat dilihat dari sumbernya. Lemak baik atau disebut lemak tak jenuh, dapat diperoleh contonya dari zat omega-3 dan omega-6. Lemak tak jenuh tersebut adalah asam lemak esensial dan sangat diperlukan oleh tubuh karena tubuh kamu tidak dapat memproduksinya sendiri. Lemak baik sendiri, berfungsi untuk menjaga arteri tetap bersih, menghasilkan kolesterol baik dan mengurangi kolesterol jahat. Sedangkan lemak jahat yang juga dikenal lemak jenuh atau lemak trans dapat berasal dari keju, mayones, serta daging olahan. Mengkonsumsi lemak jahat yang berlebihan akan meningkatkan produksi kolesterol buruk pada tubuh. Selain itu, kadar kolesterol baik yang diproduksi oleh lemak baik, juga akan berkurang akibat terlalu banyaknya kolesterol jahat pada tubuh.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Lipid

Lipid atau lemak didefinisikan sebagai senyawa organik heterogen yang terdapat di alam dan bersifat relatif tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut nonpolar. Lipid adalah senyawa yang berisi karbon dan hidrogen, yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik (Hartono, 2006). Menurut Madja (2007), lemak adalah suatu zat yang kaya akan energi, berfungsi sebagai sumber energi yang utama untuk proses metabolisme tubuh. Lemak yang beredar didalam tubuh diperoleh dari dua sumber yaitu dari makanan dan hasil produksi organ hati, yang bisa disimpan didalam sel-sel lemak sebagai cadangan energi.

Lipid adalah sekelompok senyawa non heterogen yang meliputi asam lemak dan turunannya, lemak netral (trigliserida), fosfolipid serta sterol ( Ganong ,2008). Lipid memiliki arti lain sebagai kelompok besar biomolekul dengan gugus fungsional karboksil (-COOH) atau gugus ester (-COOR), yang tidak dapat larut dalam air, tapi larut dalam larutan non polar, seperti eter, aseton, bensin, karbon tetraklorida, dan lain sebagainya (Baraas, 2006).

Lipid dapat dikelompokkan berdasarkan struktur dan karakteristik non polar menjadi lemak (fat), lilin fosfolipid, sfingolipid, glikolipid, eikosanoat, steroid, lipoprotein dan vitamin yang larut dalam lemak. Beberapa jenis lipid memiliki gugus polar dan non polar, sehingga bersifat ampifatik yang akan membentuk misel di dalam air (Ritter, 1996). Menurut Boyer (2002), lipid juga dikelompokkan berdasarkan gugus polar dan non polar. Lipid yang hanya mengandung gugus non polar disebut lipid non polar atau lipid netral sebagai contoh kelompok lemak (fat). Lipid non polar berperan dalam metabolisme, khususnya sebagai cadangan energi. Lipid yang mengandung gugus polar dan gugus non polar disebut lipid polar, sebagai contoh fosfolipid. Lipid polar berperan didalam membran sel dan membran organel untuk melindungi isi sel dan organel dari lingkungan luar sel.

B. Klasifikasi Lipid

Berdasarkan hasil hidrolisisnya lipid dapat digolongkan menjadi lipid sederhana, lipid majemuk, dan sterol.

a. Lipid sederhana

Lipid sederhana merupakan ester gugus asam lemak (sering disebut juga sebagai gugus asil) dengan molekul alkohol gliserol. Lipid sederhana dapat berbentuk monogliserida, digliserida atau trigliserida (triasilgliserol). Trigliserida merupakan lipid yang tersimpan dalam sitoplasma sel-sel adiposa

b. Lipid majemuk

Lipid majemuk jika dihidrolisis akan menghasilkan gliserol , asam lemak dan zat lain. Secara umum lipida kompleks dikelompokkan menjadi dua, yaitu fosfolipid dan glikolipid. Fosfolipid adalah suatu lipid yang jika dihidrolisis akan menghasilkan asam lemak, gliserol, asam fosfat serta senyawa nitrogen. Contoh senyawa yang termasuk dalam golongan ini adalah lesitin dan sephalin. Glikolipid adalah suatu lipid kompleks yang mengandung karbohidrat. Salah satu contoh senyawa yang termasuk dalam golongan ini adalah serebrosida. Serebrosida terutama terbentuk dalam jaringan otak, senyawa ini merupakan penyusun kurang lebih 7 % berat kering otak, dan pada jaringan syaraf .

c. Sterol

Sterol sering ditemukan bersama-sama dengan lemak. Sterol dapat dipisahkan dari lemak setelah penyabunan. Persenyawaan sterol yang terdapat dalam minyak terdiri dari kolesterol dan fitosterol.

C. Sifat Lipid

Beberapa sifat dari lipid adalah sebagai berikut :

  • Hidrolisis dari lipid akan menghasilkan asam lemak yang berperan pada metabolisme tumbuhan dan hewan.
  • Lipid tidak larut dalam air, tetapi dapat larut dalam pelarut organik (benzena, eter, aseton, kloroform, dan karbontetraklorida).
  • Lipid mengandung unsur-unsur karbon, hidrogen, oksigen. Beberapa jenis lipid juga memiliki kandungan nitrogen dan fosfor.
  • Lipid tidak mempunyai satuan yang berulang, tidak seperti karbohidrat dan protein (Marks et al, 2000)

D. Fungsi Lipid

Lipid merupakan bahan bakar metabolik untuk memberikan energi kepada sel-sel tubuh, komponen struktural membran sel, komponen pembentuk insulator untuk mengurangi penurunan panas tubuh, menghemat protein, memberi rasa kenyang dan kelezatan, meredam dampak benturan pada organ tubuh, komponen pembentuk hormon (fungsi endokrin) dan vitamin yang larut dalam lemak (Hartono, 2006).

E. Uji Lipid

a. Uji kelarutan lemak

Gugus-gugus utama lipid memiliki karakteristik kelarutan (solubilitas) yang berbeda dan sifat yang digunakan dalam ekstraksi dan pemisahan lemak dari materi biologis. Supaya terbentuk emulsi yang stabil diperlukan suatu zat pengemulsi yang disebut emulsifier yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan antara kedua fase cairan. Cara kerja emulsifier terutaa disebabkan oleh bentuk molekulnya yang dapat terikat baik pada minyak maupun air. Emulsifier akan membentuk lapisan disekeliling minyak sebagai akibat menurunnya tegangan permukaan, sehingga mengurangi kemungkinan bersatunya butir-butir minyak satu sama lain (Saputri, 2013).

b. Uji ketidakjenuhan pada lipid

Uji ketidakjenuhan digunakan untuk mengetahui asam lemak yang diuji apakah termasuk asam lemak jenuh atau tidak jenuh dengan menggunakan pereaksi Iod Hubl. Iod Hubl digunakan sebagai indkator perubahan. Asam lemak yang diuji ditambah kloroform sama banyaknya. Reaksi positif ketidakjenuhan asam lemak ditandai dengan timbulnya warna merah asam lemak, lalu warna kembali lagi ke warna awal kuning bening. Warna merah yang kembali pudar menandakan bahwa terdapat banyak ikatan rangkap pada rantai hidrokasrbo asam lemak. Trigliserida yang mengandung asam lemak yang mempunyai ikatan rangkap dapat diadisi oleh golongan halogen. Pada uji ini, pereaksi iod hubl akan mengoksidasi asam lemak yang mempunyai ikatan rangkap pada molekulnya menjadi ikatan tunggal. Warna merah muda yang hilang selama reaksi menunjukkan bahwa asam lemak tak jenuh telah mereduksi pereaksi iod hubl (Erma, 2011).

c. Uji saponifikasi

Pementukan saponifikasi memberikan haisl positf. Dari ketiga bahan lipid yang dipakai ternyata minyak merupakan larutan lipid terbanyak dan tercepat dalam pembentukan sabun. Sabun yang terbentuk berasal dari larutan alkali berlebih yang bereaksi degan asam lemak bebas menggunakan garam natrium. Sabun yang terbentuk bersifat larut dalam air tapi akan mengalami pengendapan bila ada penambahan NaCl berlebih.

BAB III METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum Pengujian Lipid ini kami lakukan pada :

Hari :

Tempat :

B. Alat dan Bahan

Berikut ini merupakan alat dan bahan yang kami gunakan dalam Praktikum Pengujian Lipid ini, sebagai berikut:

Alat

Bahan

  • kloroform
  • eter
  • aquades
  • Na2CO3 1%
  • pereaksi iod huble
  • KOH alkoholik 10%
  • sampel (minyak kelapa, minyak kelapa sawit, minyak zaitun, mentega)

C. Prosedur Kerja atau Cara Kerja

Berikut ini berbagai langkah dalam Praktikum Pengujian Lipid ini, adalah sebagai berikut:

a. Uji kelarutan

  1. Siapkan 4 tabung reaksi, Masukkan masing-masing dengan 2ml kloroform, eter, aquades, dan larutan Na2CO3 1%
  2. Tambahkan 2 tetes minyak kelapa dan mentega
  3. Tutup mulut tabung, kemudia homogenkan dengan cara digojlok selama 5 menit
  4. Catat perbedaan pada tiap tabung

b. Uji ketidak-jenuhan

  1. Campuran 10ml kloroform dengan 10 tetes pereaksi iod hubl
  2. Masukkan campuran kedalam 4 tabung reaksi
  3. Tambahkan pada masing-maisng tabung reaksi minyak kelapa, minyak kelapa sawit, minyak zaitun, dan mentega
  4. Gojlok dan amati perubahan warna

c. Uji saponifikasi

  1. Masukkan masing-masing 1 ml sampel (minyak kelapa, minyak kelapa sawit, minyak zaitun dan mentega) kedalam tabung reaksi
  2. Tambahkan 2 ml KOH alkoholik
  3. Panaskan dengan penangas air selama 10 menit
  4. Tambahkan 2 ml aquades
  5. Kocok hingga berbusa, amati buih yang terjadi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Percobaan

Tabel uji kelarutan lipid
Uji ketidak-jenuhan
Uji saponifikasi

B. Pembahasan

Adapun pembahasan dalam Praktikum Pengujian Lipid ini adalah sebagai berikut:

Pada praktikum biokimia lpid kali ini, kami melakukan 3 percobaan yakni, uji kelarutan, uji ketidak-jenuhan, dan uji saponifikasi. Lipid adalah biomolekul yang mengandung hidrokarbon dan membuat building blocks struktur dan fungsi sel hidup. Sampel minyak dan lemak yang digunakan dalam praktikum ini adalah minyak kelapa, minyak kelapa sawit, minyak zaitun dan mentega.

a. Uji kelarutan

Solubilitas atau yang biasa disebut kelarutan merupakan kemampuan suatu zat kimia tertentu yang bertindak sebagai zat terlarut (solute) untuk larut dalam suatu pelarut (solven). Kelarutan bergantung pada struktur zat, seperti perbandingan gugus polar dan non polar dari suatu molekul. Untuk uji kelarutan ini digunakan 2 sampel yaitu minyak kelapa dan mentega. Pelarut yang digunakan adalah kloroform, eter, aquades dan Na2CO3 1%.

Pada percobaan ini langkah awal yang dilakukan adalah menempatkan masing-masing pelarut pada 4 tabung reaksi yang berbeda. Kemudian pada masing-masing pelarut di teteskan minyak kelapa sebanyak 2 tetes . Hal yang sama dilakukan juga pada sampel mentega. Hasil yang didapat adalah pada kloroform dan eter sampel minyak kelapa dan mentega menunjukkan hasil positif larut. Pada pelarut aquades minyak kelapa dan mentega memberi hasil negatif, yakni tidak larut. Sedangkan dalam Na2CO3 1% kedua sampel memberikan hasil yag berbeda, pada minyak kelapa memberikan hasil positif larut, namun pada mentega ketika dicampurkan terbentuk emulsi pada campuran.

Menurut teori lipid merupakan biomolekul yang tidak larut dalam air, karena umumnya lipid merupakan molekul yang memiliki gugus non polar. Teori ini sesuai dengan percobaan kelarutan dengan menggunakan aquades yang memberikan hasil negatif. Hal ini karena aquades merupaka pelarut yang bersifat polar, sehingga kedua zat ini tidak bercampur. Pada pelarut kloroform dan eter hasil yang diberikan positif karena kedua pelarut tersebut merupakan pelarut non polar, sehingga pelarut dengan sampel dapat saling tarik menarik antar molekulnya. Pada Na2CO3 1% seharusnya memberikan hasil positif pada kedua sampel karena Na2CO3 merupakan senyawa non polar. Pada Na2CO3 1% dengan penambahan mentega terbentuk emulsi yang merupakan dispersi suatu cairan dalam cairan lain, yang molekul-molekul kedua cairan tersebut tidak saling berbaur tetapi sangat antagonistik. Dikhawatirkan ketika sedang melakukan praktikum pada tabung campuran mentega dengan Na2CO3 1% secara tidak sengaja termasuk aquades. Hal ini karena Na2CO3 merupakan zat emulgator sehingga penambahan lipid sehingga dapat membantu menurunkan tegangan permukaan aquades dan terbentuk emulsi.

b. Uji ketidak-jenuhan

Uji ketidak jenuhan dilakukan untuk mengetahui asam lemak yang di uji apakah termasuk kedalam asam lemak jenuh atau asam lemak tak jenuh dengan menggunakan pereaksi iod hubl. Uji ini diawali dengan mencampur kloroform dengan pereaksi iod hubl. Koroform berfungsi untuk melarutkan lemak. pereaksi iod hubl digunakan sebagai indokator. Pereaksi iod buhl mengandung iod dalam alkohol dan sedikit HgCl2. Iod berfungsi untuk melakukan adisi pada suatu ikatan rangkap yang ada pada lemak. HgCl2 berfungsi sebagai katalisator reaksi. Kemudian ditambahkan masing-masing sampel. Sampel yang digunakan adalah minyak kelapa, minyak kelapa sawir, minyak zaitun, dan mentega. Kemudian dikocok atau digojlok hingga homogen.

Pada sampel minyak kelapa, minyak kelapa sawit dan mentega warna merah muda tidak hilang walaupun sampel ditambah beberapa tetes. Yang mengindikasikan bahwa minyak kelapa, minyak kelapa sawit dan mentega merupakan lemak jenuh. Minyak kelapa mengandung 90% lemak jenuh yang beresiko meningkatkan kadar Low Destiny Lipoprotein (LDL) atau yang lebih dikenal sebagai kolesterol jahat. Pada minyak kelapa sawit mengandung asam palmitat yang termasuk ke dalam asam lemak jenuh. Pada mentega atau juga dikenal sebagai butter bahan utamanya terbuat dari krim atau susu kambing, domba atau sapi. Sebesar 80% dari mentega terdiri dari lemak hewani yaitu lemak jenuh dan lemak trans.

Pada sampel minyak zaitun menunjukkan bahwa minyak zaitun tergolong kedalam asak lemak tidak jenuh. Faktanya minyak zaitun memiliki lima hingga sepuluh kali lebih banyak lemak sehat yang dibutuhkan, jika dibandingkan dengna minyak kelapa. Lemak sehat ini termasuk rantai ganda asam lemak tidak jenuh dan rantai tunggal asam lemak tidak jenuh.

Asam lemak jenuh dapat dibedakan dari asam lemak tak jenuh dengan cara melihat strukturnya. Asam lemak tak jenuh memiliki ikatan ganda pada gugus hidrokarbonnya. Reaksi positif ketidakjenuhan asam lemak ditandai dengan timbulnya warna merah asam lemak, lalu warna kembali lagi menjadi putih bening. Warna merah yang kembali pudar menandakan bahwa terdapat banyak ikatan rangkap dapat diadisi oleh golongan halogen. Pada uji ini, pereaksi iod hubl akan mengoksidasi asam lemak yang mempunyai ikatan rangkap pada molekulnya menjadi ikatan tunggal. Warna merah muda yang hilang selama reaksi menunjukkan bahwa asam lemak tak jenuh lebih mereduksi pereaksi iod hubl.

c. Uji saponifikasi

Uji terakhir pada praktikum kali ini adalah uji saponifikasi. Saponifikasi adalah reaksi yang terjadi ketika minyak atau lemak dicampur dengan alkali yang menghasilkan sabun dan gliserol. Prinsip dalam proses saponifikasi, yaitu  lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun mentah. Alkali yang biasa digunakan pada uji saponifikasi adalah NaOH dan KOH. Untuk menghasilkan sabun yang keras digunakan NaOH, sedangkan untuk menghasilkan sabun yang lunak atau sabun cair digunakan KOH. Perbedaan antara sabun keras dan lunak jika dilihat dari kelarutannya dalam air yaitu sabun keras bersifat kurang larut dalam air jika dibandingkan dengan sabun lunak. Namun pada pada praktikum kali ini kami hanya mengggunakan KOH saja. Sampel yang digunakan pada uji ini ada 4 yakni minyak kelapa, minyak kelapa sawit, minyak zaitun dan mentega.

Masing-masing sampel di masukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 1 ml. Kemudian kemudian sampel ditambahkan dengan KOH alkoholoik yang berfungsi sebagai basa alkali yang dapat menghidrolisis lemak menghasilkan gliserol dan sabun. Fungsi dari alkohol pada pereaksi adalah utuk melarutkan lemak atau minyak dalam sampel sehingga dapat bereaksi dengan basa alkali. Kemudia dilakukan pemanasan, yang berfungsi untuk mempercepat hidrolisis, homogenisasi untuk menghomogenkan larutan dengan pereaksi. Setelah dilakukan pemansan kemudian di tambahkan aquades. Dan dikocok hingga berbusa. Pada setiap sampel menghasilkan busa. Dari percobaan ini menandakan bahwa semua sampel mengandung trigliserida.

Apabila rantai karbon itu pendek, maka jumlah mol asam lemak besar, sebaliknya apabila rantai karbonnya panjang maka jumlah mol asam lemak kecil. Jumlah miligram KOH yang diperlukan untuk menyabunkan 1 gram lemak disebut bilang penyabunan. Jika sejumlah sampel disabunkan dengan larutan KOH berlebih dalam alkoloh. Maka KOH akan bereaksi dengan triliserida, yaitu tiga molekul KOH bereaksi dengan satu molekul minyak atau lemak. Reaksi yang terjadi adalah :

BAB V PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan dari percobaan yang telah dilakukan, maka dalam Praktikum Pengujian Lipid ini dapat disimpulkan bahwa :

  1. Lipid bersifat non polar sehingga akan larut dalam pelarut polar yaitu kloroform, eter dan Na2CO3. Lipid tidak larut dalam aquades karena aquades bersifat polar.
  2. Ketika mentega dilarutkan dengan Na2CO3 terbentuk emulsi, hal ini kerena Na2CO3 merupakan emulgator.
  3. Minyak kelapa, minyak kelapa sawit dan mentega tergolong ke dalam asam lemak jenuh. Sedangkan minyak zaitun merupakan asam lemak tak jenuh.
  4. Uji saponifikasi adalah uji untuk mengetahui busa banyaknya busa yang dihasilkan dari pereaksian lemak atau minyak (trigliserida) dengan KOH alkololik.

Download Laporan Praktikum [PDF]

Anda dapat mendownload Laporan Praktikum Pengujian Lipid ini dalam format PDF dengan mengklik tombol download yang sudah kami sediakan di bawah.

Download Laporan Praktikum
Klik Tombol Diatas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *