Laporan Praktikum Uji Nyala Alkali dan Alkali Tanah

  • Whatsapp
Laporan Praktikum Uji Nyala Alkali
Laporan Praktikum Uji Nyala Alkali dan Alkali Tanah

Laporan Praktikum Uji Nyala Alkali dan Alkali Tanah – Laporan Berikut ini merupakan laporan yang admin Laporanpraktikum.id susun dari berbagai sumber dan referensi, semoga laporan ini dapat membantu pembaca semuanya.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Unsur merupakan zat tunggal yang sederhana. Unsur dapat ditemukan dalam keadaan bebas maupun di dalam tanah. Wujud dari unsur pun berbeda dengan lainnya. Ada yang berwujud padat ada pula yang berwujud cair. Dari sistem periodik kita mengetahui bahwa ada 90 buah unsur yang terdapat di alam serta ditambah belasan unsur buatan. Selain memiliki wujud yang berbeda, setiap unsur juga memiliki perbandingan berat dan jumlah atom yang beraneka ragam. Ada yang besar, sedang maupun kecil.

Seperti yang telah diketahui unsur alkali terdapat pada golongan I A (kecuali H) sedangkan unsur alkali tanah terdapat pada golongan II A, unsur logam tersebut dapat membentuk oksida dan hidroksida yang larut dalam air menghasilkan larutan basa. Unsur-unsur alkali terdiri dari logam Li, Na, K, Rb, Cs, Fr. Unsur-unsur alkali ini memiliki kereaktifan yang besar. Sedangkan unsur-unsur alkali tanah terdiri dari logam Be, Mg, Ca, Sr dan Ra. Unsur-unsur alkali tanah ini pada umumnya ditemukan didalam tanah.

Logam-logam alkali dan alkali tanah disebut juga logam-logam blok s karena hanya terdapat satu atau dua elektron pada kulit terluarnya. Elektron terluar ini menempati tipe orbital s (sub kulit s) dan sifat logam-logam ini seperti energi ionisasi  (IE) yang rendah, ditentukan oleh hilangnya elektron s ini membentuk kation. Golongan 1 Logam Alkali yang kehilangan satu elektron s1 terluarnya menghasilkan ion M+ dan Golongan 2 Logam Alkali Tanah yang kehilangan dua elektron s2 terluarnya menghasilkan ion M2+. Sebagai akibatnya, sebagian besar senyawa dari unsur-unsur Golongan 1  dan 2 cenderung bersifat ionik.

Logam alkali dan alkali tanah memberikan warna yang khas, warna nyala ini dapat digunakan sebagai salah asatu cara mengidentifikasi adanya unsur logam alkali dan alkali tanah pada suatu zat. Dalam percobaan ini akan diselidiki warna nyala dari senyawa logam alkali dan alkali tanah.

B. Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah dalam laporan ini adalah :

Agar pembatasan masalah dalam praktikum ini memiliki ruang lingkup yang jelas maka pembatasan masalahnya adalah “pengidentifikasian warna nyala logam alkali dan alkali tanah”.

C. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam praktikum ini adalah :

  1. Bagaimana warna nyala dari logam alkali dan alkali tanah?
  2. Bagaimana cara terjadinya spektrum nyala yag khas dari logam alkali dan alkali tanah?
  3. Mengapa warna nyala dapat digunakan sebagai uji adanya unsur tertentu dalam senyawa?

D. Tujuan Praktikum

Tujuan  praktikum ini adalah :

  1. Mengetahui warna nyala dari logam alkali dan alkali tanah .
  2. Mengetahui cara terjadinya spektrum nyala yang khas dari logam alkali dan alkali tanah.
  3. Mengetahui mengapa warna nyala dapat digunakan sebagai uji adanya unsur tertentu dalam senyawa.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Alkali

Unsur golongan IA kecuali hidrogen mempunyai kecenderungan melepaskan elektron. Akibatnya unsur ini bersifat logam, yang disebut logam alkali karena oksidanya dalam air membentuk larutan basa (alkalis). Sebagai logam alkali bersifat sebagai penghantar panas dan listrik, mempunyai titik lebur relatif rendah dari logam lain. Hal ini disebabkan oleh logam alkali hanya melepas satu elektron, sehingga ikatan logam dalam kristalnya kuat (Syukri, 1999).

Menurut Kristiani (2010), logam biasanya dianggap sebagai padatan yang keras dengan rapatan massa yang tinggi dan tidak reaktif. Namun kenyataannya, sifat-sifat logam-logam alkali berlawanan dengan sifat-sifat tersebut yaitu lunak, rapatan massa rendah dan sangat reaktif. Semua logam alkali (Li, Na, K, Rb, Cs, Fr)  tampak mengkilat, berwarna keperakan, merupakan konduktor listrik dan panas yang baik. Logam alkali bersifat sangat lunak, dan semakin lunak dengan naiknya nomor atom pada unsur alkali tersebut. Litium dapat dipotong dengan pisau, tetapi kalium dapat diremas seperti mentega lunak. Sebagian besar logam mempunyai titik leleh yang sangat tinggi, tetapi logam alkali mempunyai titik leleh rendah dan semakin rendah dengan naiknya nomor atom. Cs meleleh pada temperatur sedikit diatas temperatur kamar. Kombinasi antara sifat konduktivitas panas yang tinggi dan titik leleh yang rendah, membuat natrium bermanfaat untuk mentransfer panas pada reaktor nuklir. Kelunakan dan kerendahan titik leleh logam-logam alkali dapat dikaitkan dengan lemahnya ikatan metalik dalam unsur-unsur tersebut. Perubahan entalpi atomisasi logam-logam umumnya berharga antara 400 – 600 KJ mol-1. Ternyata terdapat hubungan antara sifat lunak dan rendahnya titik leleh dengan rendahnya perubahan entalpi atomisasi.

Menurut Retno (2010), beberapa sifat umum senyawa logam alkali berkaitan dengan karakter ionik, kestabilan anion-anion besar bermuatan rendah, hidrasi ion dan kelarutan sebagaimana diuraikan sebagai berikut:

  1. Karakter ionik : ion logam alkali selalu mempunyai tingkat oksidasi +1 dan sebagian besar senyawanya berupa padatan ionik dan stabil. Senyawa-   senyawanya tidak berwarna kecuali dengan anion yang berwarna. Misalnya  kromat (CrO3) dan permanganat (MnO4).
  2. Hidrasi ion : semakin tinggi densitas muatan ion, semakin kuat ion tersebut terhidrasi. Oleh karena logam-logam alkali mempunyai densitas yang jauh lebih rendah dari pada densitas logam-logam pada umumnya, maka energi hidrasi senyawa-senyawanya juga sangat rendah dan energi hidrasi semakin kecil dengan jari-jari ion.
  3. Kelarutan : sebagian besar senyawa-senyawa logam alkali larut dalam air, walaupun kelarutannya berbeda-beda. Sebagai contoh larutan jenuh litium klorida (LiCl) mempunyai konsentrasi 14 mol L-1, tetapi larutan jenuh litium karbonat (Li2CO3)  mempunyai konsentrasi hanya 0,18 mol L-1 .

Semua unsur golongan IA berwarna putih keperakan berupa logam padat, kecuali cesium berwujud cair pada suhu kamar. Logam alkali Natrium merupakan logam lunak dan dapat dipotong dengan pisau. Logam alkali Kalium lebih lunak dari natrium. Pada Tabel 3.8 tampak bahwa logam litium, natrium, dan kalium mempunyai massa jenis kurang dari 1,0 g cm–3. Akibatnya, logam tersebut terapung dalam air. Akan tetapi, ketiga logam ini sangat reaktif terhadap air dan reaksinya bersifat eksplosif disertai nyala.

Tabel Warna Nyala Alkali

B. Alkali Tanah

Unsur golongan IIA disebut sebagai alkali tanah, sebab unsur tersebut bersifat basa dan banyak ditemukan dalam mineral tanah, umumnya reaktif namun kurang reaktif jika dibandingkan dengan logam alkali (Syamsidar, 2013). Golongan alkali tanah terdiri atas Be, Mg, Ca, Sr, Ba, Ra, dan Si yang mirip dengan konfigurasi gas mulia yang stabil. Karakter ini meningkat dari berilium hingga barium, dan khusus untuk berilium dialam lebih cenderung berbentuk molekuler dibandingkan bentuk ionik. Terutama oksidanya berbentuk oksida atmosfir bukan oksida logam yang bersifat basa (Kasim, 2008).

Semua unsur dalam IIA tidak bereaksi dengan air kecuali pada suhu tinggi kecuali berilium dan magnesium berkorosi terus menerus dalam udara sampai mereka seluruhnya telah diubah menjadi oksida, hidroksida, atau karbonat. Berilium dan magnesium mudah bereaksi dengan oksigen tetapi selaput oksida yag kuat yang terbentuk, cenderung melindungi logam yang terletak disebelah bawahnya dari serangan lebih lanjut pada suhu kamar. Bila dipanaskan keras-keras, bahkan kedua logam ini pun akan terbakar dengan baik. Pada suhu tinggi, magnesium yang terbakar dalam udara tidak hanya bereaksi hanya dengan oksigen tetapi bahkan juga dengan nitrogen dan karbon dioksida (Keenan, 1984).

Menurut Syukri (1999), makin kecil jari-jari menyebabkan daya tarik ion dengan molekul air lebih kuat. Muatan ion alkali tanah lebih besar dari ion alkali, maka daya tarik tersebut lebih kuat pada logam alkali tanah dibandingkan alkali. Logam alkali tanah mempunyai reaksi berbeda dengan logam alkali Ra adalah radioaktif dan tidak turut bereaksi. Secara spesifik, jika loga alkali tanah dikenai api, maka warna nyala yang terjadi adalah sebagai berikut :

Tabel Warna Nyala Alkali Tanah

Menurut Keenan, (1984), spektrum nyala pada unsur IA dan IIA memberi warna-warna yang khas pada nyala api biasa. Dalam pekerjaan laboratorium analitik, uji-uji nyala sering digunakan untuk mengungkapkan ada tidaknya berbagai unsur Alkali dan Alkali Tanah. Warna yang berbeda itu disebabkan oleh panjang gelombang yang berbeda. Berarti jarak orbital dari tiap atom unsur selalu berbeda. Jarak antar orbital ternyata tidak ada yang sama untuk setiap atom unsur.

C. Hipotesis

Terdapat warna nyala yang berbeda pada setiap unsur logam alkali dan alkali tanah.

BAB III METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum uji nyala alkali dan alkali tanah ini kami lakukan pada :

Hari :

Tempat :

B. Alat dan Bahan

Alat

  • Kawat nikrom
  • pembakar spritus
  • plat tetes
  • gelas kimia 50 ml
  • pematik
  • tisu

Bahan

  • Larutan HCl 25 ml
  • Kristal NaCl
  • Kristal KCl
  • Kristal CaCl2
  • Kristal SrCl2
  • Kristal BaCl2

C. Prosedur Kerja atau Cara Kerja

  1. Letakkan kristal NaCl, KCl, CaCl2, SrCl2, dan BaCl2 pada plat tetes
  2. Nyalakan pembakar spritus
  3. Tuangkan larutan HCl kedalam gelas kimia 25 ml
  4. Celupkan kawat nikrom kedalam larutan HCl dalam gelas kimia
  5. Bakar ujung kawat nikrom pada nyala api biru pembakar spritus. Jika terjadi perubahan nyala api, celupkan kembali kawat nikrom kedalam larutan HCl lalu bakar lagi. Ulangi hingga tidak terbentuk warna nyala lain pada kawat nikrom
  6. Benamkan ujung kawat nikrom yang bersih kedalam kristal NaCl pada plat tetes hingga kristal menempel pada kawat nikrom.
  7. Bakar pada nyala api biru, amati warna nyala yang terjadi dan catat hasil
  8. Ulangi langkah 4-7 untuk kristal KCl, CaCl2, SrCl2, dan BaCl2

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Adapun pembahasan dalam laporan fotosintesis ini adalah sebagai berikut :

Tabel Warna Nyala

Pada praktikum ini dilakukan percobaan warna nyala logam alkali dan alkali tanah. Percobaan dilakukan untuk menguji warna yang dihasilkan oleh alkali dan alkali tanah dalam nyala api. Pembersihan kawat nikrom dilakukan dengan pencelupan kawat kedalam larutan asam klorida (HCl) dimana larutan ini berfungsi untuk membersihkan pengotor atau kontaminan yang melekat pada kawat nikrom sehingga pengotor tersebut akan mudah menguap dari kawat nikrom, selain itu asam klorida (HCl) digunakan karna tidak menghasilkan warna nyala pada saat dilakukan pemijaran diatas nyala api sehingga tidak akan mempengaruhi hasil pengamatan uji nyala. Indikator kawat nikrom ini bersih adalah jika nyala api sama dengan semula yang dalam hal ini adalah warna biru.Pencelupan kembali ke dalam HCl ini juga berfungsi agar nantinya garam-garam klorida lebih mudah menempel ketika kawat di masukkan ke dalamnya.

Percobaan uji nyala ini menggunakan garam –  garam klorida sebagai bahannya.Dipilihnya garam-garam klorida dari golongan alkali dan alkali tanah karena garam-garam inimampu membentuk garam-garam klorida yang ketika dibakar menunjukkan warna yangspesifik. Pada dasarnya, apabila suatu senyawa kimia dipanaskan, maka akan teruraimenghasilkan unsur-unsur penyusunnya dalam wujud gas atau uap. Kemudian, atom-atomdari unsur logam tersebut mampu menyerap sejumlah energi tinggi (keadaan tereksitasi). Pada keadaan energi tinggi, atom logam tersebut sifatnya tidak stabil sehingga mudah kembali kekeadaan semula (berenergi rendah) dengan cara memancarkan energi yang diserapnya dalam bentuk cahaya. Besarnya energi yang diserap atau yang dipancarkan oleh setiap atom unsurlogam bersifat khas. Hal ini dapat ditujukkan dari warna nyala atom-atom logam yang mampumeneyerap radiasi cahaya didaerah sinar tampak.

Setelah kawat nikrom layak digunakan pencelupan dilanjutkan kedalam kristal natrium klorida (NaCl), kalium klorida (KCl), kalsium klorida (CaCl2), stronsium klorida (SrCl2), dan barium klorida (BaCl2) yang dilakukan satu persatu setelah membersihkan kawat nikrom.

Berdasarkan hasil pengamatan natrium klorida (NaCl) menghasilkan warna kuning, kalium klorida (KCl) menghasilkan warna ungu, kalsium klorida (CaCl2) menghasilkan warna merah, stronsium klorida (SrCl2) menghasilkan warna merah bata, dan barium klorida (BaCl2) menghasilkan warna hijau. Warna yang dihasilkan sesuai dengan teori yang telah dibahas pada kajian pustaka. Perbedaan warna nyala disebabkan karena perbedaan spektrum emisi yang dihasilkan oleh setiap unsur logam. Hal ini didasarkan pada nomor atom dan subkulit yang dimiliki oleh masing-masing unsur logam. Eksitasi dari subkulit s, p dan d akan memberikan energi yang berbeda sehingga menghasilkan warna nyala yang berbeda pula.

BAB V PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan dari percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa :

  1. Warna nyala natrium klorida (NaCl) adalah kuning, kalium klorida (KCl) adalah ungu, kalsium klorida (CaCl2) adalah merah, stronsium klorida (SrCl2) adalah merah bata, dan barium klorida (BaCl2) adalah hijau.
  2. Spektrum nyala pada unsur IA dan IIA memberi warna-warna yang khas pada nyala api biasa. Warna yang berbeda itu disebabkan oleh panjang gelombang yang berbeda. Berarti jarak orbital dari tiap atom unsur selalu berbeda. Jarak antar orbital ternyata tidak ada yang sama untuk setiap atom unsur.
  3. Warna nyala dapat digunakan untuk uji adanya unsur tertentu dalam senyawa karena setiap unsur memiliki karakteristik warna yang berbeda yang dapat membedakan unsur satu dengan unsur yang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *